Sebagian orang berhubungan seks karena mereka merasa, pada titik rasa, pada titik tertentu, mereka seperti tidak punya hak untuk menolak. Mungkin mereka telah terhanyut dalam gairah yang lebih dari yang mereka inginkan. Mereka ingin berhenti, tetapi merasa itu tidak adil bagi pasangan mereka. Mungkin mereka tidak tahu bagaimana menghentikannya. Atau mungkin, karena telah setuju berhubungan seks dengan seseorang, mereka merasa sekarang harus melakukannya. Mungkin saja awalnya itu ide mereka. Tetapi sebenarnya, tak ada kata terlambat untuk memutuskan tidak melakukan hubungan seks.
http://ahliremaja.blogspot.com/
Saat film The Accused ditayangkan tahun 1988, film itu memunculkan banyak kontroversi. Film itu bercerita mengenai Sarah Tobias, seorang wanita yang diperkosa dengan brutal oleh sekelompok pria disebuah bar, serta perjuangannya menuntut keadilan melawan para pemerkosanya dan orang -orang yang mendukung mereka. Banyak lembaga pelayanan konseling korban pemerkosaan tidak senang dengan film itu, karena Sarah Tobias jauh dari tipe korban perkosaan: dia peminum, pemakai narkoba, berpakaian menggoda, pergaualn bebas, bicaranya kasar dan jelas - jelas mencari kesenangan, ia bahkan menggoda penyerangnya sebelum peristiwa perkosaan itu terjadi. Pengelola lembaga penanganan korban perkosaan khawatir hal itu akan mengaburkan masalah, tetapi mereka yang mendukung film itu menyatakan bahwa penggambaran tersebut justru memperjelas masalahnya. Sarah Tobias, kata mereka, punya hak untuk menggoda. Ia berhak memamerkan seksualitasnya dalam cara ia berpakaian dan menari. Ia juga berhak menyatakan batasan dan menolak berhubungan seks. Apakah ia memancing para penyerangnya? Mungkin. Tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa ia mempunyai hak secara legal dan moral untuk meminta dihentikannya tindakan lebih jauh, kapan saja. Saat para pemerkosa dan pendukungnya mengabaikan hak itu, mereka mengubah permainan saling menggoda menjadi sebuah perkosaan kejam.
Sama halnya, anak Anda selalu berhak menyatakan batasan dan menolak berhubungan seks. Dalam situasi apapun, tidak ada kata terlambat bagi mereka untuk berkata tidak. Kita semua pernah melakuakn hal - hal bodoh, membuat orang terpancing lebih dari seharusnya - mungkin kita tidak memikirkan akibat dari tindakan kita itu, atau mungkin kita merasa perhatian yang kita dapatkan begitu membuat kita tersanjung hingga tidak ingin itu berhenti. Tetapi meski berperilaku 'menggoda' seperti itu tidak bihaksana, tetap saja tidak mengubah fakta bahwa secara legal dan moral kita berhak berubah pikiran kapan saja - bahkan meski sudah separuh jalan, jika itu sudah terlalu jauh. Jadi anak Anda tidak harus melakukan sesuatu jika mereka tidak benar - benar menginginkan nya. Pada saat mereka berkata tida, mereka telahh mencabut persetujuan mereka. Dan seks tanpa persetujuan, bagaiamana pun, adalah pemerkosaan.
Jagi apa yang harus dilakukan anak Anda ? Bagaiamana cara mereka mengatakan tidak? Cara paling adil dan paling efektif adalah mereka melakukan apa yang dilakukan orang dewasa: mendorong tubuh pasangan mereka dan berteriak (hanya untuk memastikan bahwa mereka mendengarnya), "Stop! Aku tidak mau melakukannya!" Jika perlu, mereka harus melepaskan diri dan mengenakan kembali pakaian mereka. Gerakan tubuh seperti itu membantu memperkuat pesan bahwa 'kesenangan' benar - benar berakhir - lagu penutup sudah dikumandangkan. Kemungkinannya, tentu saja, pasangan mereka tidak akan terlalu senang karenanya. Bahkan, mungkin mereka perlu lebih diyakinkan bahwa anak Anda benar - benar serius. Tetapi jika mereka menghargai anak Anda, dan tidak ingin terlibat masalah berat, mereka pasti berhenti.
Iklan Pilihan
Showing posts with label kekerasan seksual. Show all posts
Showing posts with label kekerasan seksual. Show all posts
Thursday, July 10, 2008
Tolong!
Tetapi bagaimana jika anak Anda telanjur mengalami kekerasan seksual, dan terasa seperti mencoba menutup pintu kandang saat kudanya telah lari ? Apa yang harus dilakukan kemudian?
http://ahliremaja.blogspot.com/
Hal pertama yang harus Anda lakukan jika anak melapor bahwa mereka telah dilecehkan adalah memercayai mereka. Seorang anak jarang sekali mengarang cerita tentang sesuatu yang serius seperti kekerasan seksual, bahkan jika memang benar begitu, maka akibat bagi orang yang dituduh akan sangat parah dan bersifat jangka panjang. Tapi meski pernyataan mereka membuat Anda seakan tidak percaya, terutama jika itu melibatkan seseorang yang Anda kenal dan percayai, bahkan mungkin pasangan atau saudara kandung Anda - perhatian utama Anda sebagai ayah atau ibu harus tertuju pada anak Anda. Resiko karena memercayai mereka - meski mereka seringkali sedikit membelokkan kebenaran - jauh lebih kecil dibanding resiko jika tidak memercayai mereka.
Setelah memercayai mereka dan memastikan bahwa Anda memang memercayai mereka, ada tiga hal lagi yang harus Anda lakukan: menghentikan, melihat dan mendengarkan.
Menghentikan.
Jika peluang terjadinya tindak kekerasan seksual itu bahkan masih ada (dan bukti - bukti menunjukkan bahwa anak seringkali takut untuk mengakui bahwa kekerasan seksual itu masih berlanjut), maka penting sekali bagi Anda untuk memastikan bahwa telah diambil langkah yang tepat untuk menghentikannya. Ketika terdapat juga ancaman atas keselamatan jiwa, atau seandainya bukti fisik (misalnya air mani) masih ada pada anak Anda, maka pihak pertama yang harus dihubungi adalah polisi. Meskipun begitu, dalam sebagian besar kasus, akan lebih baik juga jika Anda menghubungi lembaga sosial perlindungan anak didaerah Anda. Mereka lebih biasa menangani kasus kekerasan seksual, dan umumnya juga akan bersikap lebih tenang, hati - hati dan teliti. Biasanya, mereka akan mengadakan penyelidikan detil sebelum mengambil tindakan yang diperlukan, berbicara dengan anak Anda, dengan Anda, pasangan Anda jika adam dengan orang yang diduga sebagai pelaku dan orang - orang lain (misalnya para guru, ketua kelompok kaum muda) yang bisa membantu memberikan inforamsi. Jangan khawatir jika mereka akan mencoba memisahkan anak Anda dari Anda - dibawah aturan hukum di Inggris, Undang - undang Anak tahun 1989, Dinas Sosial tidak mempunyai kekuasaan hukum untuk memisahkan anak dari orang tua mereka kecuali mereka bisa membuktikan risiko bahaya jika anak tetap tinggal bersama orang tuanya. Dengan kata lain, pihak berwenang di daerah Anda hanya diizinkan memisahkan anak Anda dari Anda jika Anda atau pasangan Anda adalah orang yang melakukan kekerasan seksual, dan jika ada risiko bahwa hal itu dapat terus terjadi jika mereka tetap tinggal di rumah.
Anda mungkin sedikit berhati - hati untuk melibatkan Dinas Sosial. Apakah itu sangat perlu ? Jawabannya sangat jelas: ya. Salah satu alasannya, anak Anda tidak akan memberitahu Anda mengenai tindak pelecehan itu hanya agar Anda tahu saja. Mereka menginginkan bantuan. Mereka ingin itu dihentikan, dan Dinas Sosial (bersama dengan polisi) adalah pihak yang mempunyai kekuasaan dan tanggung jawab untuk melakukannya. Alasan lainnyaadalah bahwa kemungkinan ancaman bukan hanya pada keselamatan anak Anda saja. Meskipun sebagian pelaku seumur hidupnya hanya melakukan kekerasan seksual pada satu anak atau hanya sekali saja terlibat dalam pelanggaran seksual, sebagian besar akan melakukannya pada anak - anak lain jika ia diberi kesempatan. Anda tidak boleh mengabaikan ini, seberapapun Anda enggan untuk 'tampil ke depan'.
Melihat.
Setelah kekerasan seksual dihentikan dan pelakunya ditangani, waktunya untuk dengan hati - hati melihat dampaknya. Anak - anak korban kekerasan seksual biasanya merasa kotor, bersalah, tidak berharga dan tidak bisa dicintai karena secara pribadi mereka telah disakiti. Bentuk ekspresi kasih sayang mereka yang paling intim telah dirampas dan dimanfaatkan orang lain demi kesenangan pribadinya sendiri. Seks sangat bermakna hanya saat Anda secara positif memilih untuk melakukannya, dan bagi para korban pemerkosaan atau pelecehan seksual, memulihkan perasaaan tersebut bisa menjadi perjalanan panjang dan menyakitkan. Anda harus bekerja sangat keras untuk memastikan mereka kembali bahwa:
* Anda mencintai mereka, tanpa syarat
* Mereka sangat berharga sebagai seorang pribadi
* Anda tidak menghakimi atau menyalahkan mereka atas apa yang terjadi
* Mereka sama sekali tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi
* Mereka tak tercemar atau ternoda seumur hidupnya
* Mereka masih bisa hidup bahagia dan berguna
* Apa yang mereka alami bukanlah seks, tetapi tindak kekerasan
* Mereka masih bisa menemukan cinta, dan merasakan keindahannya.
Mungkin bisa membantu jika dibuat garis batas dengan masa lalu, dengan cara menarik mereka dari aktivitas tertentu dimana mereka mengalami peristiwa itu. Jangan terkejut saat melihat adanya ketakutan dan kilas balik yang mungkin tampak 'tidak masuk akal' yang berhubungan dengan kejadian itu. Bagi seorang anak, tindak pelecehan bukanlah sesuatu yang bisa disembuhkan begitu saja, seberapa cerdas dan sehat penampilan si anak dari luar. Sebagian besar korban memerlukan waktu bertahun - tahun untuk mengatasi dampak emosional dari cobaan berat mereka. Sebagian lagi mengalami masalah lebih lanjut di masa - masa penting hidup mereka seperti masa puber atau pernikahan. Anda harus terus menyampaikan kata -kata dukungan Anda kepada mereka dari waktu ke waktu, guna membuktikan bahwa diri mereka selalu istimewa dan betapa Anda mencintai mereka senantiasa. Mereka perlu mendengarnya lebih sering dibanding mendengarkan cerita sebelum tidur, jadi biasakan diri Anda untuk mengatakannya, dengan bersungguh-sungguh, dan membuat mereka tidak sekadar memercayainya sebagai satu pernyataan tanpa arti.
Mendengarkan.
Memendam semua perasaan tidak baik bagi anak Anda. Mereka perlu berbicara pada seorang profesional terlatih yang memahami apa yang telah mereka alami dan untuk membantu mereka menerimanya. Dokter Anda atau Dinas Sosial seharusnya bisa menghubungkan Anda dengan seseorang yang ahli dalam bidang ini. (Jika Anda belum melaporkan masalah ini kepada Dinas Sosial), Anda perlu memikirkannya masak - masak mengingatkan para dokter dan ahli terapi - bahkan pendeta - secara hukum tidak wajib melaporkan kasus kekerasan seksual, sebagian besar mereka terikat oleh kode etik yang tidak memberi mereka pilihan selain melakukannya.)
Mencari bantuan bukanlah tanda ketidak mampuan. Pasti akan menakutkan dan mungkin sangat menyakitkan bagi anak Anda untuk membicarakan apa yuang telah mereka alami tetapi hanya itulah cara mereka untuk terbebas darinya dan memulai kembali semuanya. Anda akan berperan sangat penting disini, karena mereka harus membicarakannya dan mendengar nasihat dan masukan Anda, paling tidak pada awalnya. Tetapi peran Anda yang sebenarnya akan tergantung pada usia anak Anda - makin dewasa usianya, makin kecil pula kemungkinan mereka ingin melibatkan Anda dalam mengetahui semua detil penglaman kekerasan seksual yang mereka alami. Jangan terkejut jika saat anak remaja Anda mulai berbicara pada ahli terapi, mereka akan enggan memberikan banyak informasi. Peran Anda bukan untuk meniru peran ahli terapi atau konselor, tetapi untuk mendukung anak Anda saat mereka memerlukannya. Anda adalah "kelompok pendukung" mereka yang paling dekat. Peran Anda yang penting dan unik itu tidak berdasarkan pada apa yang anda lakukan, tetapi pada siapa diri Anda. Jadi jangan sekalipun membayangkan para ahli terapi bisa menggantikan tempat Anda, dan jangan pula mencoba menggantikan tempat mereka.
Terakhir, jangan membayangkan Anda harus menghadapi semua ini sendirian seperti yang dialami anak Anda. Kekerasan seksual bukan salah satu yang diharapkan orang tua akan terjadi dalam kehidupan mereka. Jika Anda tidak kesulitan menerimanya, Anda sedanga menipu diri Anda sendiri. Jadi pastikan Anda menemukan seseorang - bahkan ahli profesional lainnya - untuk membicarakan perasaan Anda dan pengalaman anak Anda. Jika mereka bukan seorang profesional, pastikan bahwa mereka cukup memahami masalah Anda dan, yang terpenting, Anda bisa mengandalkan mereka untuk menerima apapun yang Anda katakan dengan keyakinan penuh. Anak Anda akan menjadi sangat ketakutan jika orang - orang mengetahui pengalaman mereka - mereka tak butuh teman - teman Anda yang suka menyebar gosip ke sana sini.
http://ahliremaja.blogspot.com/
Hal pertama yang harus Anda lakukan jika anak melapor bahwa mereka telah dilecehkan adalah memercayai mereka. Seorang anak jarang sekali mengarang cerita tentang sesuatu yang serius seperti kekerasan seksual, bahkan jika memang benar begitu, maka akibat bagi orang yang dituduh akan sangat parah dan bersifat jangka panjang. Tapi meski pernyataan mereka membuat Anda seakan tidak percaya, terutama jika itu melibatkan seseorang yang Anda kenal dan percayai, bahkan mungkin pasangan atau saudara kandung Anda - perhatian utama Anda sebagai ayah atau ibu harus tertuju pada anak Anda. Resiko karena memercayai mereka - meski mereka seringkali sedikit membelokkan kebenaran - jauh lebih kecil dibanding resiko jika tidak memercayai mereka.
Setelah memercayai mereka dan memastikan bahwa Anda memang memercayai mereka, ada tiga hal lagi yang harus Anda lakukan: menghentikan, melihat dan mendengarkan.
Menghentikan.
Jika peluang terjadinya tindak kekerasan seksual itu bahkan masih ada (dan bukti - bukti menunjukkan bahwa anak seringkali takut untuk mengakui bahwa kekerasan seksual itu masih berlanjut), maka penting sekali bagi Anda untuk memastikan bahwa telah diambil langkah yang tepat untuk menghentikannya. Ketika terdapat juga ancaman atas keselamatan jiwa, atau seandainya bukti fisik (misalnya air mani) masih ada pada anak Anda, maka pihak pertama yang harus dihubungi adalah polisi. Meskipun begitu, dalam sebagian besar kasus, akan lebih baik juga jika Anda menghubungi lembaga sosial perlindungan anak didaerah Anda. Mereka lebih biasa menangani kasus kekerasan seksual, dan umumnya juga akan bersikap lebih tenang, hati - hati dan teliti. Biasanya, mereka akan mengadakan penyelidikan detil sebelum mengambil tindakan yang diperlukan, berbicara dengan anak Anda, dengan Anda, pasangan Anda jika adam dengan orang yang diduga sebagai pelaku dan orang - orang lain (misalnya para guru, ketua kelompok kaum muda) yang bisa membantu memberikan inforamsi. Jangan khawatir jika mereka akan mencoba memisahkan anak Anda dari Anda - dibawah aturan hukum di Inggris, Undang - undang Anak tahun 1989, Dinas Sosial tidak mempunyai kekuasaan hukum untuk memisahkan anak dari orang tua mereka kecuali mereka bisa membuktikan risiko bahaya jika anak tetap tinggal bersama orang tuanya. Dengan kata lain, pihak berwenang di daerah Anda hanya diizinkan memisahkan anak Anda dari Anda jika Anda atau pasangan Anda adalah orang yang melakukan kekerasan seksual, dan jika ada risiko bahwa hal itu dapat terus terjadi jika mereka tetap tinggal di rumah.
Anda mungkin sedikit berhati - hati untuk melibatkan Dinas Sosial. Apakah itu sangat perlu ? Jawabannya sangat jelas: ya. Salah satu alasannya, anak Anda tidak akan memberitahu Anda mengenai tindak pelecehan itu hanya agar Anda tahu saja. Mereka menginginkan bantuan. Mereka ingin itu dihentikan, dan Dinas Sosial (bersama dengan polisi) adalah pihak yang mempunyai kekuasaan dan tanggung jawab untuk melakukannya. Alasan lainnyaadalah bahwa kemungkinan ancaman bukan hanya pada keselamatan anak Anda saja. Meskipun sebagian pelaku seumur hidupnya hanya melakukan kekerasan seksual pada satu anak atau hanya sekali saja terlibat dalam pelanggaran seksual, sebagian besar akan melakukannya pada anak - anak lain jika ia diberi kesempatan. Anda tidak boleh mengabaikan ini, seberapapun Anda enggan untuk 'tampil ke depan'.
Melihat.
Setelah kekerasan seksual dihentikan dan pelakunya ditangani, waktunya untuk dengan hati - hati melihat dampaknya. Anak - anak korban kekerasan seksual biasanya merasa kotor, bersalah, tidak berharga dan tidak bisa dicintai karena secara pribadi mereka telah disakiti. Bentuk ekspresi kasih sayang mereka yang paling intim telah dirampas dan dimanfaatkan orang lain demi kesenangan pribadinya sendiri. Seks sangat bermakna hanya saat Anda secara positif memilih untuk melakukannya, dan bagi para korban pemerkosaan atau pelecehan seksual, memulihkan perasaaan tersebut bisa menjadi perjalanan panjang dan menyakitkan. Anda harus bekerja sangat keras untuk memastikan mereka kembali bahwa:
* Anda mencintai mereka, tanpa syarat
* Mereka sangat berharga sebagai seorang pribadi
* Anda tidak menghakimi atau menyalahkan mereka atas apa yang terjadi
* Mereka sama sekali tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi
* Mereka tak tercemar atau ternoda seumur hidupnya
* Mereka masih bisa hidup bahagia dan berguna
* Apa yang mereka alami bukanlah seks, tetapi tindak kekerasan
* Mereka masih bisa menemukan cinta, dan merasakan keindahannya.
Mungkin bisa membantu jika dibuat garis batas dengan masa lalu, dengan cara menarik mereka dari aktivitas tertentu dimana mereka mengalami peristiwa itu. Jangan terkejut saat melihat adanya ketakutan dan kilas balik yang mungkin tampak 'tidak masuk akal' yang berhubungan dengan kejadian itu. Bagi seorang anak, tindak pelecehan bukanlah sesuatu yang bisa disembuhkan begitu saja, seberapa cerdas dan sehat penampilan si anak dari luar. Sebagian besar korban memerlukan waktu bertahun - tahun untuk mengatasi dampak emosional dari cobaan berat mereka. Sebagian lagi mengalami masalah lebih lanjut di masa - masa penting hidup mereka seperti masa puber atau pernikahan. Anda harus terus menyampaikan kata -kata dukungan Anda kepada mereka dari waktu ke waktu, guna membuktikan bahwa diri mereka selalu istimewa dan betapa Anda mencintai mereka senantiasa. Mereka perlu mendengarnya lebih sering dibanding mendengarkan cerita sebelum tidur, jadi biasakan diri Anda untuk mengatakannya, dengan bersungguh-sungguh, dan membuat mereka tidak sekadar memercayainya sebagai satu pernyataan tanpa arti.
Mendengarkan.
Memendam semua perasaan tidak baik bagi anak Anda. Mereka perlu berbicara pada seorang profesional terlatih yang memahami apa yang telah mereka alami dan untuk membantu mereka menerimanya. Dokter Anda atau Dinas Sosial seharusnya bisa menghubungkan Anda dengan seseorang yang ahli dalam bidang ini. (Jika Anda belum melaporkan masalah ini kepada Dinas Sosial), Anda perlu memikirkannya masak - masak mengingatkan para dokter dan ahli terapi - bahkan pendeta - secara hukum tidak wajib melaporkan kasus kekerasan seksual, sebagian besar mereka terikat oleh kode etik yang tidak memberi mereka pilihan selain melakukannya.)
Mencari bantuan bukanlah tanda ketidak mampuan. Pasti akan menakutkan dan mungkin sangat menyakitkan bagi anak Anda untuk membicarakan apa yuang telah mereka alami tetapi hanya itulah cara mereka untuk terbebas darinya dan memulai kembali semuanya. Anda akan berperan sangat penting disini, karena mereka harus membicarakannya dan mendengar nasihat dan masukan Anda, paling tidak pada awalnya. Tetapi peran Anda yang sebenarnya akan tergantung pada usia anak Anda - makin dewasa usianya, makin kecil pula kemungkinan mereka ingin melibatkan Anda dalam mengetahui semua detil penglaman kekerasan seksual yang mereka alami. Jangan terkejut jika saat anak remaja Anda mulai berbicara pada ahli terapi, mereka akan enggan memberikan banyak informasi. Peran Anda bukan untuk meniru peran ahli terapi atau konselor, tetapi untuk mendukung anak Anda saat mereka memerlukannya. Anda adalah "kelompok pendukung" mereka yang paling dekat. Peran Anda yang penting dan unik itu tidak berdasarkan pada apa yang anda lakukan, tetapi pada siapa diri Anda. Jadi jangan sekalipun membayangkan para ahli terapi bisa menggantikan tempat Anda, dan jangan pula mencoba menggantikan tempat mereka.
Terakhir, jangan membayangkan Anda harus menghadapi semua ini sendirian seperti yang dialami anak Anda. Kekerasan seksual bukan salah satu yang diharapkan orang tua akan terjadi dalam kehidupan mereka. Jika Anda tidak kesulitan menerimanya, Anda sedanga menipu diri Anda sendiri. Jadi pastikan Anda menemukan seseorang - bahkan ahli profesional lainnya - untuk membicarakan perasaan Anda dan pengalaman anak Anda. Jika mereka bukan seorang profesional, pastikan bahwa mereka cukup memahami masalah Anda dan, yang terpenting, Anda bisa mengandalkan mereka untuk menerima apapun yang Anda katakan dengan keyakinan penuh. Anak Anda akan menjadi sangat ketakutan jika orang - orang mengetahui pengalaman mereka - mereka tak butuh teman - teman Anda yang suka menyebar gosip ke sana sini.
Bahaya dari orang yang dikenal
Seperti yang kita bahas sebelumnya, ancaman terbesar bagi anak Anda tidak datang dari orang asing tetapi datang dari orang - orang yang mereka kenal dan percayai. Jadi disamping dua prinsip untuk orang asing diatas, Anda juga harus mengajari mereka tiga prinsip untuk membentengi diri dari ancaman pelecehan dari orang yang mereka kenal.
http://ahliremaja.blogspot.com/
* Mengetahui hak - haknya.
Hak dasar anak Anda adalah untuk tidak dilecehkan, tentu saja, seperti yang tercantum dalam aturan hukum. Tetapi hak tidak selalu diterjemahkan dalam kenyataaan. Para pelaku membuat korbannya merasa mereka tidak bisa berbuat apa - apa, dan tidak puya hak berkata tidak. Jadi sangat penting Anda mengajari anak Anda bahwa mereka punya hak untuk tidak mengalami kekerasan seksual. Siapa saja yang mencoba menyentuh mereka dengan cara yang tidak pantas - yang membuat mereka merasa tidak nyaman - adalah yang bersalah. Tentu saja, anak - anak secara naluriah tahu bahwa pelecehan itu salah tetapi kemampuan pelaku untuk meyakinkan mereka yang sebaliknya adalah bagian dari kekuasaan yang ia miliki, khususnya jika pelaku adalah seseorang yang anak percayai. Jadi semakin baik Anda mengajari anak Anda bahwa mereka mempunyai hak atas apapun yang terjadi sehubungan dengan tubuh mereka - hak untuk berkata tidak kapan saja - semakin Anda bisa melindungi mereka dengan membantu anak memahami bahwa mereka benar dan pelaku salah.
* Kenali batasan -batasannya.
Tentu saja, pelecehan tidak selalu akan berhenti setelah anak mengetahui hak - haknya. Hal pertama yang tidak akan Anda lakukan sebagai orang tua adalah membuat anak berpikir bahwa mereka tidak boleh menolak bujukan pelaku. Sebaliknya, Anda tentu ingin mereka teriak, menjerit, mendorong, mendesak, menendang, menggigit, ..... apapun yang bisa dilakukan untuk mencegah agar pelecehan tidak terjadi. Tetapi kekerasan seksual adalah kejahatan oleh kekuasaan - perpaduan dari tindakan kasar, intimidasi dan kekerasan secara emosional - dan terkadang anak Anda begitu saja dikalahkan. Kemungkinan tersebut sangat penting untuk dijelaskan pada mereka sementara Anda memberi tahu tentang hak mereka untuk berkata tidak. Jika tidak, saat mereka memang kalah, mereka dapat merasa bahwa seharusnya mereka mampu menghentikannya. Jika itu terjadi, mereka tidak hanya akan merasa ikut bersalah, mereka mungkin juga sangat malu atas yang mereka anggap sebagai "kegagalan" mereka itu, sehingga mereka pun begitu takut menceritakan hal itu kepada Anda.
* Membuatnya tahu bahwa ia dicintai.
Meskipun kekuatan fisik juga digunakan dalam tindak pelecehan, tetapi perannya tidak sebesar penggunaan tekanan secara emosional.Sebagian besar orang dewasa sulit untuk menerima penolakan dari orang yang mereka cintai, apakah itu dari orang tua, pasangan atau teman sebaya. Anak - anak, yang masih mengalami perkembangan jati diri, seringkali merasa ancaman penolakan terlalu berat bagi mereka. Inilah yang membuat pelaku merasa berkuasa. Jadi, dengan membantu anak menyadari nilai diri mereka yang sebenarnya - membuat mereka tahu betapa besar Anda mencintai mereka - akan memberi mereka kepercayaan diri untuk berkata tidak, dan harga diri untuk mengatasinya bahkan sekalipun melawan adalah sia - sia. Semakin mereka mengetahui bahwa Anda mencintai mereka tanpa syarat, semakin sedikit pula rasa ketergantungan mereka terhadap cinta dan penerimaan dari si pelaku.
Aturan pokoknya tentu saja adalah untuk menanamkan pada diri anak Anda satu hal terpenting, yaitu memberi tahu Anda jika ada siapa saja yang mecoba membujuk mereka secara tak pantas atau yang menyentuh mereka dengan cara tertentu yang membuat mereka tidak nyaman. Pastikan mereka tahu perbedaan antara rahasia 'baik' (misalnya tentang kado Natal mereka untuk Anda) dan rahasia 'buruk' dimana pelaku memaksa anak untuk menyimpannya. Yang lebih utama, pastikan saluran komunikasi antara Anda dan anak Anda tetap terbuka, tak peduli mereka berumur empat atau empat belas tahun (atau empat puluh tahun).
Sebagai tambahan, penting sekali untuk menekankan dua hal dalam benak kita. Pertama, berapapun usia anak Anda, tidak ada kata terlambat untuk mengajarkan 'aturan' tersebut. Kekerasaan seksual tidak berhenti hanya karena mereka menginjak umur yang dianggap mampu memberikan persetujuan mengenai masalah seks - kita hanya memberinya sebutan berbeda, seperti pemerkosaan atau pelecehan seksual. Kedua, bukan hanya orang dewasa yang melakuakn kekerasan seksual - terkadang ini juga dilakukan oleh seorang anak kepada anak lain. Sepertiga dari semua peringatan dan tuduhan atas pelanggaran seksual di Inggris dan Wales melibatkan seseorang berusia di bawah dua puluh satu tahun. Saudara laki -laki, saudara perempuan, keponakan, teman - teman yang lebih tua: siapa pun yang memiliki kekuasaan atau pengaruh apapun atas anak Anda bisa memiliki potensi melakukan kekerasan seksual terhadap anak jika mereka mempunyai niat dan kesempatan. Ini bukan "tindakan coba - coba karena belum tahu " atau bagian dari pertumbuhan mereka - hal itu harus serius ditangani. Remaja yang melakukan pelecehan pada anak - anak akan butuh bantuan agar jejaknya tertutupi, dan bagi anak Anda, pelecehan itu tidak lantas menjadi kurang nyata atau kurang menyakitkan hanya karena itu dilakukan oleh seseorang yang belum sepenuhnya dewasa.
http://ahliremaja.blogspot.com/
* Mengetahui hak - haknya.
Hak dasar anak Anda adalah untuk tidak dilecehkan, tentu saja, seperti yang tercantum dalam aturan hukum. Tetapi hak tidak selalu diterjemahkan dalam kenyataaan. Para pelaku membuat korbannya merasa mereka tidak bisa berbuat apa - apa, dan tidak puya hak berkata tidak. Jadi sangat penting Anda mengajari anak Anda bahwa mereka punya hak untuk tidak mengalami kekerasan seksual. Siapa saja yang mencoba menyentuh mereka dengan cara yang tidak pantas - yang membuat mereka merasa tidak nyaman - adalah yang bersalah. Tentu saja, anak - anak secara naluriah tahu bahwa pelecehan itu salah tetapi kemampuan pelaku untuk meyakinkan mereka yang sebaliknya adalah bagian dari kekuasaan yang ia miliki, khususnya jika pelaku adalah seseorang yang anak percayai. Jadi semakin baik Anda mengajari anak Anda bahwa mereka mempunyai hak atas apapun yang terjadi sehubungan dengan tubuh mereka - hak untuk berkata tidak kapan saja - semakin Anda bisa melindungi mereka dengan membantu anak memahami bahwa mereka benar dan pelaku salah.
* Kenali batasan -batasannya.
Tentu saja, pelecehan tidak selalu akan berhenti setelah anak mengetahui hak - haknya. Hal pertama yang tidak akan Anda lakukan sebagai orang tua adalah membuat anak berpikir bahwa mereka tidak boleh menolak bujukan pelaku. Sebaliknya, Anda tentu ingin mereka teriak, menjerit, mendorong, mendesak, menendang, menggigit, ..... apapun yang bisa dilakukan untuk mencegah agar pelecehan tidak terjadi. Tetapi kekerasan seksual adalah kejahatan oleh kekuasaan - perpaduan dari tindakan kasar, intimidasi dan kekerasan secara emosional - dan terkadang anak Anda begitu saja dikalahkan. Kemungkinan tersebut sangat penting untuk dijelaskan pada mereka sementara Anda memberi tahu tentang hak mereka untuk berkata tidak. Jika tidak, saat mereka memang kalah, mereka dapat merasa bahwa seharusnya mereka mampu menghentikannya. Jika itu terjadi, mereka tidak hanya akan merasa ikut bersalah, mereka mungkin juga sangat malu atas yang mereka anggap sebagai "kegagalan" mereka itu, sehingga mereka pun begitu takut menceritakan hal itu kepada Anda.
* Membuatnya tahu bahwa ia dicintai.
Meskipun kekuatan fisik juga digunakan dalam tindak pelecehan, tetapi perannya tidak sebesar penggunaan tekanan secara emosional.Sebagian besar orang dewasa sulit untuk menerima penolakan dari orang yang mereka cintai, apakah itu dari orang tua, pasangan atau teman sebaya. Anak - anak, yang masih mengalami perkembangan jati diri, seringkali merasa ancaman penolakan terlalu berat bagi mereka. Inilah yang membuat pelaku merasa berkuasa. Jadi, dengan membantu anak menyadari nilai diri mereka yang sebenarnya - membuat mereka tahu betapa besar Anda mencintai mereka - akan memberi mereka kepercayaan diri untuk berkata tidak, dan harga diri untuk mengatasinya bahkan sekalipun melawan adalah sia - sia. Semakin mereka mengetahui bahwa Anda mencintai mereka tanpa syarat, semakin sedikit pula rasa ketergantungan mereka terhadap cinta dan penerimaan dari si pelaku.
Aturan pokoknya tentu saja adalah untuk menanamkan pada diri anak Anda satu hal terpenting, yaitu memberi tahu Anda jika ada siapa saja yang mecoba membujuk mereka secara tak pantas atau yang menyentuh mereka dengan cara tertentu yang membuat mereka tidak nyaman. Pastikan mereka tahu perbedaan antara rahasia 'baik' (misalnya tentang kado Natal mereka untuk Anda) dan rahasia 'buruk' dimana pelaku memaksa anak untuk menyimpannya. Yang lebih utama, pastikan saluran komunikasi antara Anda dan anak Anda tetap terbuka, tak peduli mereka berumur empat atau empat belas tahun (atau empat puluh tahun).
Sebagai tambahan, penting sekali untuk menekankan dua hal dalam benak kita. Pertama, berapapun usia anak Anda, tidak ada kata terlambat untuk mengajarkan 'aturan' tersebut. Kekerasaan seksual tidak berhenti hanya karena mereka menginjak umur yang dianggap mampu memberikan persetujuan mengenai masalah seks - kita hanya memberinya sebutan berbeda, seperti pemerkosaan atau pelecehan seksual. Kedua, bukan hanya orang dewasa yang melakuakn kekerasan seksual - terkadang ini juga dilakukan oleh seorang anak kepada anak lain. Sepertiga dari semua peringatan dan tuduhan atas pelanggaran seksual di Inggris dan Wales melibatkan seseorang berusia di bawah dua puluh satu tahun. Saudara laki -laki, saudara perempuan, keponakan, teman - teman yang lebih tua: siapa pun yang memiliki kekuasaan atau pengaruh apapun atas anak Anda bisa memiliki potensi melakukan kekerasan seksual terhadap anak jika mereka mempunyai niat dan kesempatan. Ini bukan "tindakan coba - coba karena belum tahu " atau bagian dari pertumbuhan mereka - hal itu harus serius ditangani. Remaja yang melakukan pelecehan pada anak - anak akan butuh bantuan agar jejaknya tertutupi, dan bagi anak Anda, pelecehan itu tidak lantas menjadi kurang nyata atau kurang menyakitkan hanya karena itu dilakukan oleh seseorang yang belum sepenuhnya dewasa.
Bahaya dari orang asing
Jika menyangkut ' bahaya dari orang asing', sangat penting untuk menerapkan dua prinsip berikut:
http://ahliremaja.blogspot.com/
* Teriak - lari - lapor. Ajari anak Anda aturan melarikan diri "Teriak - Lari - Lapor": Teriak "Tidak!" dengan keras, lari ke tempat aman (ketempat ramai) dan lapor pada orang dewasa apa yang terjadi.
* Jangan bicara dengan orang asing. Ajari anak Anda agar jangan bicara, pergi bersama atau menerima hadiah dari orang asing, apapun yang mereka katakan.
http://ahliremaja.blogspot.com/
* Teriak - lari - lapor. Ajari anak Anda aturan melarikan diri "Teriak - Lari - Lapor": Teriak "Tidak!" dengan keras, lari ke tempat aman (ketempat ramai) dan lapor pada orang dewasa apa yang terjadi.
* Jangan bicara dengan orang asing. Ajari anak Anda agar jangan bicara, pergi bersama atau menerima hadiah dari orang asing, apapun yang mereka katakan.
Di Rumah dan Diluar Rumah
Tetapi karena Anda tidak bisa selalu mengawasi lingkungan anak Anda, maka penting juga untuk memberi tahu mereka fakta - fakta mengenai pelecehan, dan membantu mereka memiliki keberanian untuk berkata tidak terhadap bujukan yang tidak pantas - baik yang berasal dari seseorang yang mereka kenal maupun yang belum mereka temui sebelumnya.
http://ahliremaja.blogspot.com/
* Bahaya dari orang asing
* Bahaya dari orang yang dikenal
http://ahliremaja.blogspot.com/
* Bahaya dari orang asing
* Bahaya dari orang yang dikenal
Pertahanan Terbaik
Garis pertahanan pertama adalah dengan selalu memerhatikan secara saksama lingkungan dan aktivitas berbeda yang dilakukan anak Anda saat diluar rumah. Tujuan Anda adalah untuk sedapat mungkin meminimalkan bahaya adanya orang dewasa melecehkan anak - anak dengan mengambil langkah yang merupakan gabungan antara melakukan tindakan pencegahan yang masuk akal dan menciptakan lingkungan yang aman bagi mereka.
http://ahliremaja.blogspot.com/
Misalnya, anak Anda akan lebih aman jika Anda:
* Selalu mengantar dan menjemput mereka dari kegiatan rutin mereka, atau meminta teman atau saudara yang dipercaya melakukannya untuk Anda.
* Jangan pernah membuat mereka menjadi anak terakhir yang belum dijemput dalam kegiatan di luar ruangan.
* Berusaha mengawasi jika mereka berolah raga atau mengikuti kegiatan apapun diluar ruangan.
* Mendorong mereka untuk bermain dirumah, dan mengundang teman - teman mereka, khususnya jika terdapat ruangan (kamar tidur, ruang bermain, sudut ruang makan dll).yang bisa mereka gunakan.
* Mencoba mengetahui dimana mereka setiap saat.
* Memastikan mereka tahu nomor telepon Anda, dan memberi mereka uang untuk telepon umum (atau telepon selular jika mereka sudah lebih besar) agar mereka selalu bisa menghubungi Anda jika ada masalah atau harus memberi tahu Anda dimana mereka berada.
* Tetap waspada jika ada orang dewasa menunjukkan perhatian khusus pada mereka
* Memastikan setiap organisasi yang berhubungan dengan anak Anda mempunyai kebihakan perlindungan anak yang memadai. Ini untuk memastikan bahwa semua staf terlatih dalam hal perlindungan anak, dimana mereka diwawancarai secara teliti sebelum dipekerjakan dan latar belakang mereka juga diperiksa sebagaimana mestinya. Juga harus ada jaminan bahwa selalu ada dua orang staf yang mengawasi anak - anak, jadi tidak ada yang berkesempatan untuk sendirian bersama anak Anda,
Anda tidak perlu mengubah rumah Anda menjadi benteng Fort Knox atau menyewa agen rahasia M15 untuk menemani putra Anda yang berumur sepuluh tahun setiap kali ia dan teman - temannya bermain sepak bola di taman, tetapi Anda tetap perlu melakukan tindakan pencegahan yang bijaksana.
http://ahliremaja.blogspot.com/
Misalnya, anak Anda akan lebih aman jika Anda:
* Selalu mengantar dan menjemput mereka dari kegiatan rutin mereka, atau meminta teman atau saudara yang dipercaya melakukannya untuk Anda.
* Jangan pernah membuat mereka menjadi anak terakhir yang belum dijemput dalam kegiatan di luar ruangan.
* Berusaha mengawasi jika mereka berolah raga atau mengikuti kegiatan apapun diluar ruangan.
* Mendorong mereka untuk bermain dirumah, dan mengundang teman - teman mereka, khususnya jika terdapat ruangan (kamar tidur, ruang bermain, sudut ruang makan dll).yang bisa mereka gunakan.
* Mencoba mengetahui dimana mereka setiap saat.
* Memastikan mereka tahu nomor telepon Anda, dan memberi mereka uang untuk telepon umum (atau telepon selular jika mereka sudah lebih besar) agar mereka selalu bisa menghubungi Anda jika ada masalah atau harus memberi tahu Anda dimana mereka berada.
* Tetap waspada jika ada orang dewasa menunjukkan perhatian khusus pada mereka
* Memastikan setiap organisasi yang berhubungan dengan anak Anda mempunyai kebihakan perlindungan anak yang memadai. Ini untuk memastikan bahwa semua staf terlatih dalam hal perlindungan anak, dimana mereka diwawancarai secara teliti sebelum dipekerjakan dan latar belakang mereka juga diperiksa sebagaimana mestinya. Juga harus ada jaminan bahwa selalu ada dua orang staf yang mengawasi anak - anak, jadi tidak ada yang berkesempatan untuk sendirian bersama anak Anda,
Anda tidak perlu mengubah rumah Anda menjadi benteng Fort Knox atau menyewa agen rahasia M15 untuk menemani putra Anda yang berumur sepuluh tahun setiap kali ia dan teman - temannya bermain sepak bola di taman, tetapi Anda tetap perlu melakukan tindakan pencegahan yang bijaksana.
Kelompok Bersalah
Semua orang dewasa menggunakan kekuasaan atas anak - anak, dan saat mereka makin akrab dan dipercayai, kekuasaan mereka juga makin kuat. Tidak ada yang salah tentang hal ini. Bahkan, itu sehat. Orang tua dan sekolah akan gagal jika tidak mempunyainya - kita bergantung pada kekuasaan dan wewenang yang kita miliki atas anak - anak kita untuk membuat mereka melakukan semuanya, mulai dari menyelesaikan PR, bersikap sopan sampai membersihkan belakang telinga mereka dan menjauhi api yang menyala. Tetapi kekuasaan harus selalu digunakan secara bertanggung jawab. Sebagai orang tua, kita bertanggung jawab untuk memastikan anak - anak kita tumbuh dengan baik agar bisa membuat pilihan - pilihan bijaksana sendiri dalam hidup mereka.
http://ahliremaja.blogspot.com/
Kekerasan seksual - yang menyebabkan seorang anak mengalami apa yang sekarang disebut sebagai 'trauma yang membekas' - melibatkan penggunaan kekuasaan tanpa tanggung jawab. Meskipun melibatkan seks., hal itu sebenarnya adalah tentang penindas tak bermoral yan g menggunakan kekuasaan untuk memuaskan diri mereka sendiri. Mereka mengabiakan tanggung jawab mereka untuk menggunakan kekuasaan ini untuk kebaikan anak. Terkadang hal ini melibatkan tindakan kasar, tetapi kadang juga berbentuk bujukan yang lebih halus. Akibatnya, sebagian orang tua, sebagian besar pelaku dan hampir semua korban mungkin bertanya - tanya siapa yang salah. Apakah korban ikut bersalah? Apakah mereka juga bertanggung jawab atas pelecehan itu?
Jawaban pertanyaan -pertanyaan itu dengna tegas adalah tidak, dengan dua alasan.
Alasan pertama sederhana saja: tidak ada anak berusia di bawah enam belas tahun yang secara hukum berhak memberi persetujuan yang bertanggung jawab mengenai masalah seks, jadi pelecehan tidak mungkin terjadi atas persetujuan mereka. Mengapa secara hukum anak - anak tidak bisa memberikan persetujuan mereka. Karena masyarakat menganggap mereka belum bisa bertanggung jawab secara emosional atau mental, atau belum cukup dewasa untuk membuat keputusan semacam itu. Karena itu, beban tanggung jawab berada ditangan orang dewasa. Dengan kata lain, saat seorang dewasa melecehkan seorang anak, mereka sendirilah yang bertanggung jawab. Secara hukum dan moral, anak sama sekali tidak bisa disalahkan.
Setelah menjalani terapi berbulan - bulan, Paul - seorang pria yang melakukan kekerasan seksual terhadap putrinya sendiri masih mencoba mencari pembenaran atas tindakannya, baik kepada istri maupun ahli terapinya. " Cindy berlari -lari dengan hanya memakai handuk, " katanya menjelaskan, "ia menggodaku, kau tahu sendiri bagaimana ia melakukannya." Hampir putus asa, ia menambahkan, " Aku bukan satu - satunya yang harus disalahkan atas kejadian itu."
"Tapi Paul, "jawab istrinya, "Cindy ' kan baru tujuh tahun!"
Alasan kedua lebih rumit: anak - anak biasanya sangat ingin menyenangkan orang dan sangat mudah dipengaruhi. Hal ini memberi orang dewasa suatu kekuasaan besar atas diri mereka. Sekali lagi, hal tersebut tidak jelek - kita menggunakannya untuk mengajari mereka mana yang baik dan yang buruk, membuat anak mampu membuat pilihan yang baik dikemudian hari. Tetapi dalam kasus kekerasan seksual, kekuasaan ini disalahgunakan: keinginan seorang anak untuk menyenangkan orang dibajak dan dimanfaatkan demi keuntungan pribadi orang lain.
Saat Billy yang berusia sepuluh tahun menginap dirumah bibinya selama beberapa hari, ia tidak bisa menahan kegembiraannya. Ia mencintai bibnya, dan mereka selalu akrab bersama. Tetapi pada malam pertama, ia tidak menyelimutinya agar tidur tetapi malah membuka kancing piyamanya. Dibalik kata - katanya yang lembut, Billy tahu cara bibinya menyentuh dirinya itu salah, dan sangat ingin agar ia berhenti melakukannya. Disaat yang sama, ia mencintai bibinya dan tidakingin mengecewakanny. Ia takut jika ia menolak, ia akan berhenti mencintainya. Akhirnya, Billy 'membiarkan'dia melakukan pelecehan pada dirinya hanya karena ia tidak tahu bagaimana cara menghentikan tanpa kehilangan cintany. Kerinduan untuk diterima dan keinginannya menyenangkan orang lain - keduanya sifat alami anak - anak - menentang Billy karena, dan hanya karena, kedua sifat itu dimanfaatkan bibinya untuk kepentingannya sendiri. Bagaimanapun juga Billy tidak bisa disalahkan atas pelecehan itu. Bibinya yang harus disalahkan.
http://ahliremaja.blogspot.com/
Kekerasan seksual - yang menyebabkan seorang anak mengalami apa yang sekarang disebut sebagai 'trauma yang membekas' - melibatkan penggunaan kekuasaan tanpa tanggung jawab. Meskipun melibatkan seks., hal itu sebenarnya adalah tentang penindas tak bermoral yan g menggunakan kekuasaan untuk memuaskan diri mereka sendiri. Mereka mengabiakan tanggung jawab mereka untuk menggunakan kekuasaan ini untuk kebaikan anak. Terkadang hal ini melibatkan tindakan kasar, tetapi kadang juga berbentuk bujukan yang lebih halus. Akibatnya, sebagian orang tua, sebagian besar pelaku dan hampir semua korban mungkin bertanya - tanya siapa yang salah. Apakah korban ikut bersalah? Apakah mereka juga bertanggung jawab atas pelecehan itu?
Jawaban pertanyaan -pertanyaan itu dengna tegas adalah tidak, dengan dua alasan.
Alasan pertama sederhana saja: tidak ada anak berusia di bawah enam belas tahun yang secara hukum berhak memberi persetujuan yang bertanggung jawab mengenai masalah seks, jadi pelecehan tidak mungkin terjadi atas persetujuan mereka. Mengapa secara hukum anak - anak tidak bisa memberikan persetujuan mereka. Karena masyarakat menganggap mereka belum bisa bertanggung jawab secara emosional atau mental, atau belum cukup dewasa untuk membuat keputusan semacam itu. Karena itu, beban tanggung jawab berada ditangan orang dewasa. Dengan kata lain, saat seorang dewasa melecehkan seorang anak, mereka sendirilah yang bertanggung jawab. Secara hukum dan moral, anak sama sekali tidak bisa disalahkan.
Setelah menjalani terapi berbulan - bulan, Paul - seorang pria yang melakukan kekerasan seksual terhadap putrinya sendiri masih mencoba mencari pembenaran atas tindakannya, baik kepada istri maupun ahli terapinya. " Cindy berlari -lari dengan hanya memakai handuk, " katanya menjelaskan, "ia menggodaku, kau tahu sendiri bagaimana ia melakukannya." Hampir putus asa, ia menambahkan, " Aku bukan satu - satunya yang harus disalahkan atas kejadian itu."
"Tapi Paul, "jawab istrinya, "Cindy ' kan baru tujuh tahun!"
Alasan kedua lebih rumit: anak - anak biasanya sangat ingin menyenangkan orang dan sangat mudah dipengaruhi. Hal ini memberi orang dewasa suatu kekuasaan besar atas diri mereka. Sekali lagi, hal tersebut tidak jelek - kita menggunakannya untuk mengajari mereka mana yang baik dan yang buruk, membuat anak mampu membuat pilihan yang baik dikemudian hari. Tetapi dalam kasus kekerasan seksual, kekuasaan ini disalahgunakan: keinginan seorang anak untuk menyenangkan orang dibajak dan dimanfaatkan demi keuntungan pribadi orang lain.
Saat Billy yang berusia sepuluh tahun menginap dirumah bibinya selama beberapa hari, ia tidak bisa menahan kegembiraannya. Ia mencintai bibnya, dan mereka selalu akrab bersama. Tetapi pada malam pertama, ia tidak menyelimutinya agar tidur tetapi malah membuka kancing piyamanya. Dibalik kata - katanya yang lembut, Billy tahu cara bibinya menyentuh dirinya itu salah, dan sangat ingin agar ia berhenti melakukannya. Disaat yang sama, ia mencintai bibinya dan tidakingin mengecewakanny. Ia takut jika ia menolak, ia akan berhenti mencintainya. Akhirnya, Billy 'membiarkan'dia melakukan pelecehan pada dirinya hanya karena ia tidak tahu bagaimana cara menghentikan tanpa kehilangan cintany. Kerinduan untuk diterima dan keinginannya menyenangkan orang lain - keduanya sifat alami anak - anak - menentang Billy karena, dan hanya karena, kedua sifat itu dimanfaatkan bibinya untuk kepentingannya sendiri. Bagaimanapun juga Billy tidak bisa disalahkan atas pelecehan itu. Bibinya yang harus disalahkan.
Pada Suatu Hari ...
Kekerasan itu bisa mencakup mulai dari memegang alat kelamin seorang anak atau bagian tubuh lain dengan tujuan menghasilkan rangsangan seksual bagi pelakunya, sampai memasukkan penis atau benda lain ke anus atau vagina seorang anak. Kejahatan itu tidak selalu melibatkan seseorang uyang mencapai orgasme dan tidak harus terkait dengan ketelanjangan. Memaksa seorang anak membaca atau menonton sesuatu yang jelas bersifat seksual juga termasuk dalam bentuk kekerasan tersebut - hal itu termasuk mengeksploitasi seorang anak untuk kepuasan seksual. Menurut hukum di Inggris, seorang 'anak' didefinisikan sebagai seseorang yang belum mampu memberikan persetujuan yang bertanggung jawab mengenai seks - saat buku ini ditulis, menurut hukum di Inggris itu berarti mereka yang masih di bawah umum 18 tahun (untuk hubungan sejenis antar pria) atau dibawah 16 tahun (untuk hubungan dengan lawan jenis).
http://ahliremaja.blogspot.com/
Berlawanan dengan semua hal yang melatar belakangi kesalah pahaman orang mengenai kekerasan seksual, ada lima fakta yang secara khusus perlu diperhatikan karena biasanya sangat sering terlewatkan.
1. Bahaya terbesar seringkali datang dari orang yang sudah dikenal.
Saat seorang narapidana pelaku paedofil dibebaskan dari penjara dan sedang menuju kampung halaman mereka, penduduk setempat akan segera melakukan protes, khawatir akan keselamatan anak mereka. Tetapi ketakutan terhadap 'ancaman asing' membutakan mereka dari kenyataan bahwa bahaya terbesar bagi keselamatan anak - anak mereka lebih sering datang dari dekat rumah mereka. Dua pertiga dari semua kekerasan seksual dilakukan oleh seseorang yang sudah dikenal dan dipercaya oleh anak. Jauh dari gambaran bahwa pelakunya adalah seorang tua memakai jas hujan, tipikal orang yang melakukan pelecehan terhadap anak - anak adalah orang tua, saudara laki -laki, saudara perempuan, paman, bibi, kakek, atau nenek, teman, pengasuh, guru, pembimbing remaja - seseorang yang posisinya dipercaya untuk mempunyai waktu berdua bersama anak. Tentu saja, sangat penting bagi kita untuk tidak membesar - besarkan hal ini: sebagian besar orang yang dikenal dan dipercaya oleh anak Anda - mungkin semuanya tidak pernah bermimpi untuk melakukan itupada mereka. Tetapi jika anak Anda termasuk satu dari sepuluh yang menjadi korban, kemungkinan hal itu dilakukan oleh sosok dengan gambaran steretip pelaku paedofil.
2. Pelaku kekerasan seksual terhadap anak tampak seperti orang biasa.
Pada tahun 1960, setelah menyelidiki selama lima belas tahun, dinas rahasia Israel menangkap Adolf Eichmann, orang yang bertanggung jawab mengatur pembunuhan enam juta orang Yahudi di masa Holocaust. Persidangannya menjadi berita di seluruh dunia, tetapi yang paling mengejutkan orang adalah bahwa ia sangat tampak seperti orang biasa. Jangan berpikir Anda bisa menebak pelaku pelecehan dari jarak tiga puluh langkah. Masih ada begitu banyak hal mengenai pelaku kekerasan seksual selain tindkannya - dalam hal lain mereka tampak noraml. Sebagian besar orang dewasa yang melakukan kekerasan seksual pada anak - anak menyembunyikan perilaku jahatnya itu begitu rapat seperti halnya mereka menyembunyikan tindak pelecehan itu sendiri. Meskipun banyak dari mereka pernah menjadi korban waktu kecil (meskipun penting ditegaskan bahwa sebagian besar yang pernah menjadi korban tidak lantas berubah menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap anak - anak), mereka cenderung terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka tidak melakuakn sesuatu yang salah. Bahkan banyak yang berpikir korban mereka sebenarnya menikmati pengalaman tersebut.
3. Baik pria atau wanita bisa menjadi pelaku.
Meskipun kemungkinan anak perempuan mengalami kekerasan seksual adalah dua kali lebih besar dibanding anak laki - laki, diperkirakan antara 80 sampai 96 persen dari semua kekerasan seksual dilakukan laki - laki. Meski begitu, keliru juga jika Anda berpikir bahwa wanita tidak bisa melakukan kekerasan seksual terhadap anak - anak, atau mereka hanya melakukannya pada anak perempuan. Tidak hanya ada sebagian wanita yang menjadi pelaku kekerasan seksual secara langsung, sebagian lain bisa menjadi peserta pasif karena membiarkan terjadinya kekerasan seksual yang dilakukan suami atau pasangan mereka, baik menolak melihat, atau mengakui apa yang sebenarnya terjadi.
4. Banyak pria yang melakukan kekerasan seksual pada anak laki - laki adalah pria heteroseksual, mungkin juga telah menikah.
Seringkali dikatakan bahwa pria yang melakukan kekerasan seksual pada anak laki - laki adalah gay , tetapi nyatanya banyak pelecehan seksual sesama jenis dilakukan oleh orang -orang heteroseksual. (bahkan, seperti arti katanya, gambaran umum pelaku paedofil cenderung lebih tertarik secara seksual pada anak - anak, dan sama sekali bukan pada orang dewasa). Nyatanya, kekerasan seksual lebih terkait dengan kekuasaan, bukan seks. Banyak pelaku yang telah menikah memperlakukan pasangan mereka sama buruknya dengan cara memperlakukan anak - anak benang merahnya terletak pada rasa mabuk kekuasaan yang mereka peroleh dari tindakan itu. Orientasi seksual sebenarnya hampir tidak berperan dalam tindak kekerasan seksual - jenis kelamin korban tidak terlalu penting dibandingkan kerapuhan jiwa mereka, karena kekerasan seksual pada dasarnya adalah suatu bentuk penindasan seksual yang kuat pada yang lemah.
5. Pelecehan seksual adalah rahasia yang dijaga rapat - rapat.
Banyak orang tua menganggap mereka akan tahu jika anaknya mengalami pelecehan - mereka mengenal anak mereka dengan baik sehingga bisa menangkap perubahan apapun dalam perilaku mereka. Tetapi masalahnya semua tanda bahaya 'klasik' - kurang percaya diri, perilaku atau pengetahuan seksual yang tidak semestinya, aktivitas yang kacau, tidak mampu berkonsentrasi, takut didekati, tanda - tanda fisik seperti memar, dll, - bisa merupakan akibat dari banyak hal selain kekerasan seksual. Lebih jauh lagi, karena rasa takut yang bercampur dengan rasa bersalah dan malu, anak Anda kemungkinan besar tidak akan memberi tahu siapapun mengenai hal itu.
http://ahliremaja.blogspot.com/
Berlawanan dengan semua hal yang melatar belakangi kesalah pahaman orang mengenai kekerasan seksual, ada lima fakta yang secara khusus perlu diperhatikan karena biasanya sangat sering terlewatkan.
1. Bahaya terbesar seringkali datang dari orang yang sudah dikenal.
Saat seorang narapidana pelaku paedofil dibebaskan dari penjara dan sedang menuju kampung halaman mereka, penduduk setempat akan segera melakukan protes, khawatir akan keselamatan anak mereka. Tetapi ketakutan terhadap 'ancaman asing' membutakan mereka dari kenyataan bahwa bahaya terbesar bagi keselamatan anak - anak mereka lebih sering datang dari dekat rumah mereka. Dua pertiga dari semua kekerasan seksual dilakukan oleh seseorang yang sudah dikenal dan dipercaya oleh anak. Jauh dari gambaran bahwa pelakunya adalah seorang tua memakai jas hujan, tipikal orang yang melakukan pelecehan terhadap anak - anak adalah orang tua, saudara laki -laki, saudara perempuan, paman, bibi, kakek, atau nenek, teman, pengasuh, guru, pembimbing remaja - seseorang yang posisinya dipercaya untuk mempunyai waktu berdua bersama anak. Tentu saja, sangat penting bagi kita untuk tidak membesar - besarkan hal ini: sebagian besar orang yang dikenal dan dipercaya oleh anak Anda - mungkin semuanya tidak pernah bermimpi untuk melakukan itupada mereka. Tetapi jika anak Anda termasuk satu dari sepuluh yang menjadi korban, kemungkinan hal itu dilakukan oleh sosok dengan gambaran steretip pelaku paedofil.
2. Pelaku kekerasan seksual terhadap anak tampak seperti orang biasa.
Pada tahun 1960, setelah menyelidiki selama lima belas tahun, dinas rahasia Israel menangkap Adolf Eichmann, orang yang bertanggung jawab mengatur pembunuhan enam juta orang Yahudi di masa Holocaust. Persidangannya menjadi berita di seluruh dunia, tetapi yang paling mengejutkan orang adalah bahwa ia sangat tampak seperti orang biasa. Jangan berpikir Anda bisa menebak pelaku pelecehan dari jarak tiga puluh langkah. Masih ada begitu banyak hal mengenai pelaku kekerasan seksual selain tindkannya - dalam hal lain mereka tampak noraml. Sebagian besar orang dewasa yang melakukan kekerasan seksual pada anak - anak menyembunyikan perilaku jahatnya itu begitu rapat seperti halnya mereka menyembunyikan tindak pelecehan itu sendiri. Meskipun banyak dari mereka pernah menjadi korban waktu kecil (meskipun penting ditegaskan bahwa sebagian besar yang pernah menjadi korban tidak lantas berubah menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap anak - anak), mereka cenderung terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka tidak melakuakn sesuatu yang salah. Bahkan banyak yang berpikir korban mereka sebenarnya menikmati pengalaman tersebut.
3. Baik pria atau wanita bisa menjadi pelaku.
Meskipun kemungkinan anak perempuan mengalami kekerasan seksual adalah dua kali lebih besar dibanding anak laki - laki, diperkirakan antara 80 sampai 96 persen dari semua kekerasan seksual dilakukan laki - laki. Meski begitu, keliru juga jika Anda berpikir bahwa wanita tidak bisa melakukan kekerasan seksual terhadap anak - anak, atau mereka hanya melakukannya pada anak perempuan. Tidak hanya ada sebagian wanita yang menjadi pelaku kekerasan seksual secara langsung, sebagian lain bisa menjadi peserta pasif karena membiarkan terjadinya kekerasan seksual yang dilakukan suami atau pasangan mereka, baik menolak melihat, atau mengakui apa yang sebenarnya terjadi.
4. Banyak pria yang melakukan kekerasan seksual pada anak laki - laki adalah pria heteroseksual, mungkin juga telah menikah.
Seringkali dikatakan bahwa pria yang melakukan kekerasan seksual pada anak laki - laki adalah gay , tetapi nyatanya banyak pelecehan seksual sesama jenis dilakukan oleh orang -orang heteroseksual. (bahkan, seperti arti katanya, gambaran umum pelaku paedofil cenderung lebih tertarik secara seksual pada anak - anak, dan sama sekali bukan pada orang dewasa). Nyatanya, kekerasan seksual lebih terkait dengan kekuasaan, bukan seks. Banyak pelaku yang telah menikah memperlakukan pasangan mereka sama buruknya dengan cara memperlakukan anak - anak benang merahnya terletak pada rasa mabuk kekuasaan yang mereka peroleh dari tindakan itu. Orientasi seksual sebenarnya hampir tidak berperan dalam tindak kekerasan seksual - jenis kelamin korban tidak terlalu penting dibandingkan kerapuhan jiwa mereka, karena kekerasan seksual pada dasarnya adalah suatu bentuk penindasan seksual yang kuat pada yang lemah.
5. Pelecehan seksual adalah rahasia yang dijaga rapat - rapat.
Banyak orang tua menganggap mereka akan tahu jika anaknya mengalami pelecehan - mereka mengenal anak mereka dengan baik sehingga bisa menangkap perubahan apapun dalam perilaku mereka. Tetapi masalahnya semua tanda bahaya 'klasik' - kurang percaya diri, perilaku atau pengetahuan seksual yang tidak semestinya, aktivitas yang kacau, tidak mampu berkonsentrasi, takut didekati, tanda - tanda fisik seperti memar, dll, - bisa merupakan akibat dari banyak hal selain kekerasan seksual. Lebih jauh lagi, karena rasa takut yang bercampur dengan rasa bersalah dan malu, anak Anda kemungkinan besar tidak akan memberi tahu siapapun mengenai hal itu.
Satu Berbanding Sejuta?
Kekerasan seksual pada anak sudah sering terjadi dan sangat memprihatinkan. Di Amerika Serikat, dimana banyak dilakukan penelitian mengenai frekuensi kekerasan seksual, perkiraan awal dari para ahli mengindikasikan sekitar satu dari lima anak - anak pernah mengalami suatu bentuk kekerasan seksual sampai mereka menginjak umur delapan belas tahun - baik itu ' kekerasan' yang dialami sebagai anak - anak, maupun 'pelecehan' atau 'pemerkosaan' (termasuk yang disebut "pemerkosaan saat kencan") ketika mereka dewasa. Penelitian di Inggris mencatat angka yang lebih rendah yaitu sekitar satu dari sepuluh anak - anak (satu dari delapan anak perempuan, satu dari dua belas anak laki - laki) , tetapi sejumlah faktor - termasuk " sikap hati - hati orang Inggris" yang terkenal itu - mungkin menjadi penyebab atas lebih sedikitnya kejahatan yang dilaporkan dari pada di Amerika. Dalam tingkatan apapun, angka satu banding sepuluh tidak berarti hal tersebut jarang terjadi.
http://ahliremaja.blogspot.com/
Dalam konteks yang lebih jelas, Anda sendiri mungkin mengenal beberapa orang yang mengalami kekerasan seksual saat masih anak - anak. Tentu saja, mereka tidak mengenakan lencana yang menunjukkkan hal itu, dan tidak ada tato bertuliskan "korban" di dahi mereka. Artinya, kerap kali Anda juga tidak mengetahui bahwa mereka pernah mengalaminya. Apalagi hal seperti itu juga bukan sesuatu yang biasa kita bicarakan.
Tetapi justru itulah masalahnya. Karena kita tidak membicarakannya, kita menciptakan budaya yang membisu terhadap masalah tersebut. Kita membuatnya menjadi tema yang tabu untuk dibicarakan. Hal ini menjadi semacam buah simalakama. Karena tema tersebut sangat berat untuk dibicarakan, kita cenderung tidak membicarakan. Lebih jauh lagi, tidak membicarakannya bisa membuat kita tetap tidak banyak tahu, dan pada gilirannya membuat kita tidak lagi menghargai pentingnya membicarakan hal tersebut. Kebisuan pun berlanjut, ketidak tahuan berlanjut dan kejahatan pun berlanjut.
Ketidak tahuan akan lantas membuat kita bahagia. Tentu saja kita tidak ingin menakut - nakuti anak kita - atu diri kita sendiri - dengan mencurigai setiap orang yang mereka kenal. Lagi pula, 90 persen anak - anak tidak menjadi korban. Tetapi jika kita tidak banyak memberi tahu mereka mengenai kapan mereka benar dan orang lain salah, kita membuat mereka tidak mampu menghadapi tipuan yang mungkin dikatakan si pelaku. Pengetahuan adalah kekuatan: dengan memberi tahu anak Anda mengenai ancaman yang mungkin terjadi, berarti Anda memberi mereka bekal untuk melindungi diri dari ancaman yang mungkin datang.
http://ahliremaja.blogspot.com/
Dalam konteks yang lebih jelas, Anda sendiri mungkin mengenal beberapa orang yang mengalami kekerasan seksual saat masih anak - anak. Tentu saja, mereka tidak mengenakan lencana yang menunjukkkan hal itu, dan tidak ada tato bertuliskan "korban" di dahi mereka. Artinya, kerap kali Anda juga tidak mengetahui bahwa mereka pernah mengalaminya. Apalagi hal seperti itu juga bukan sesuatu yang biasa kita bicarakan.
Tetapi justru itulah masalahnya. Karena kita tidak membicarakannya, kita menciptakan budaya yang membisu terhadap masalah tersebut. Kita membuatnya menjadi tema yang tabu untuk dibicarakan. Hal ini menjadi semacam buah simalakama. Karena tema tersebut sangat berat untuk dibicarakan, kita cenderung tidak membicarakan. Lebih jauh lagi, tidak membicarakannya bisa membuat kita tetap tidak banyak tahu, dan pada gilirannya membuat kita tidak lagi menghargai pentingnya membicarakan hal tersebut. Kebisuan pun berlanjut, ketidak tahuan berlanjut dan kejahatan pun berlanjut.
Ketidak tahuan akan lantas membuat kita bahagia. Tentu saja kita tidak ingin menakut - nakuti anak kita - atu diri kita sendiri - dengan mencurigai setiap orang yang mereka kenal. Lagi pula, 90 persen anak - anak tidak menjadi korban. Tetapi jika kita tidak banyak memberi tahu mereka mengenai kapan mereka benar dan orang lain salah, kita membuat mereka tidak mampu menghadapi tipuan yang mungkin dikatakan si pelaku. Pengetahuan adalah kekuatan: dengan memberi tahu anak Anda mengenai ancaman yang mungkin terjadi, berarti Anda memberi mereka bekal untuk melindungi diri dari ancaman yang mungkin datang.
Rahasia Kita Berdua : Bagaimana Berbicara pada Anak Anda Mengenai Kekerasan Seksual
SAAT perusahaan pelayaran bergengsi White Star meluncurkan kapal penumpang raksasa Titanic di tahun 1912, dinyatakan bahwa kapal itu tidak hanya dibangun sebagai kapal penumpang terbesar di dunia, tetapi juga yang paling aman. Dengan baja berkeling, konstruksi dasar ganda, dilengkapi ruangan kedap air yang dijalankan dengan listrik, sampai - sampai membuat pers menyebut kapal itu 'tak tenggelam'. Tetapi setelah lima hari pelayaran perdananya ke New York , Titanic menabrak gunung es. Kisah selanjutnya, kata orang hanyalah sejarah. Tidak pernah ada lagi pembuat kapal yang begitu angkuh. Mereka tidak pernah lagi berani meyakini bahwa hal yang tak terpikirkan tidak akan pernah terjadi pada mereka.
http://ahliremaja.blogspot.com/
Bagi sebagian besar kita, bayangan bahwa anak kita mungkin diperkosa atau mengalami kekerasan seksual barangkali tidak pernah terpikirkan. Hal itu sangat mengerikan sampai - sampai kita menghapusnya dari benak kita, tidak lagi mampu - atau ingin - melihatnya sebagai sebuah kemungkinan yang sungguh - sungguh ada. Kekerasan seksual selalu merupakan sesuatu yang terjadi pada anak orang lain, bukan anak kita. Tetapi menerapkan pendekatan ini bisa berarti mengundang potensi bencana, sama seperti keyakinan berlebihan dari White Star telah mengantar Titanic menuju kehancuran.
Berbicara pada anak Anda mengenai bahaya kekerasan seksual bukan hanya bijaksana, tetapi sangat penting.Kita perlu serius menanggapi kemungkinan ancaman bahaya itu sampai kita yakin bahwa kita telah mengambil tindakan pengamanan sebagaimana mestinya, tanpa perlu bersikap berlebihan. Kita sangat perlu menempatkan hal ini dalam cara pandang yang benar menempatkannya di tengah - tengah antara kepuasan diri dan ketakutan berlebihan. Jangan biarkan ketakutan menghalangi impian anak kita. Jangan sampai karena kita begitu menaruh perhatian dengan potensi bahaya kekerasan seksual sampai - sampai kita mengawasi mereka selam 24 jam atau mengurung mereka di rumah seumur hidupnya. Saat Titanic tenggelam, pemerintah tidak kemudian menutup pelayaran antar benua melainkan memperketat prosedur keamanannya. Sama halnya, perusahaan penerbangan tidak lantas menutup usaha mereka hanya karena mereka tahu bahwa pesawatnya punya kemungkinan mengalami kecelakaan - sebagai gantinya, mereka mengambil langkah pencegahan dan memberikan peragaan langkah pengamanan bagi semua penumpang setiap kali sebelum terbang. Tujuan mereka sederhana: bukan untuk menakuti penumpang atau awak kabin, tetapi memastikan mereka tahu apa yang harus dilakukan jika ' yang tak terpikirkan' itu terjadi dan mereka harus mendarat darurat.
http://ahliremaja.blogspot.com/
Bagi sebagian besar kita, bayangan bahwa anak kita mungkin diperkosa atau mengalami kekerasan seksual barangkali tidak pernah terpikirkan. Hal itu sangat mengerikan sampai - sampai kita menghapusnya dari benak kita, tidak lagi mampu - atau ingin - melihatnya sebagai sebuah kemungkinan yang sungguh - sungguh ada. Kekerasan seksual selalu merupakan sesuatu yang terjadi pada anak orang lain, bukan anak kita. Tetapi menerapkan pendekatan ini bisa berarti mengundang potensi bencana, sama seperti keyakinan berlebihan dari White Star telah mengantar Titanic menuju kehancuran.
Berbicara pada anak Anda mengenai bahaya kekerasan seksual bukan hanya bijaksana, tetapi sangat penting.Kita perlu serius menanggapi kemungkinan ancaman bahaya itu sampai kita yakin bahwa kita telah mengambil tindakan pengamanan sebagaimana mestinya, tanpa perlu bersikap berlebihan. Kita sangat perlu menempatkan hal ini dalam cara pandang yang benar menempatkannya di tengah - tengah antara kepuasan diri dan ketakutan berlebihan. Jangan biarkan ketakutan menghalangi impian anak kita. Jangan sampai karena kita begitu menaruh perhatian dengan potensi bahaya kekerasan seksual sampai - sampai kita mengawasi mereka selam 24 jam atau mengurung mereka di rumah seumur hidupnya. Saat Titanic tenggelam, pemerintah tidak kemudian menutup pelayaran antar benua melainkan memperketat prosedur keamanannya. Sama halnya, perusahaan penerbangan tidak lantas menutup usaha mereka hanya karena mereka tahu bahwa pesawatnya punya kemungkinan mengalami kecelakaan - sebagai gantinya, mereka mengambil langkah pencegahan dan memberikan peragaan langkah pengamanan bagi semua penumpang setiap kali sebelum terbang. Tujuan mereka sederhana: bukan untuk menakuti penumpang atau awak kabin, tetapi memastikan mereka tahu apa yang harus dilakukan jika ' yang tak terpikirkan' itu terjadi dan mereka harus mendarat darurat.
Subscribe to:
Posts (Atom)